Sejarah Indonesia Sunday, Nov 4 2007 

Sejarah Indonesia meliputi suatu rentang waktu yang sangat panjang yang dimulai sejak zaman prasejarah oleh “Manusia Jawa” pada masa sekitar 500.000 tahun yang lalu. Periode dalam sejarah Indonesia dapat dibagi menjadi lima era: era pra kolonial, munculnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha serta Islam di Jawa dan Sumatera yang terutama mengandalkan perdagangan; era kolonial, masuknya orang-orang Eropa (terutama Belanda) yang menginginkan rempah-rempah mengakibatkan penjajahan oleh Belanda selama sekitar 3,5 abad antara awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20; era kemerdekaan, pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945) sampai jatuhnya Soekarno (1966); era Orde Baru, 32 tahun masa pemerintahan Soeharto (19661998); serta era reformasi yang berlangsung sampai sekarang.

Secara geologi, wilayah Indonesia modern muncul kira-kira sekitar masa Pleistocene ketika masih terhubung dengan Asia Daratan. Pemukim pertama wilayah tersebut yang diketahui adalah manusia Jawa pada masa sekitar 500.000 tahun lalu. Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es.

Para cendekiawan India telah menulis tentang Dwipantara atau kerajaan Hindu Jawa Dwipa di pulau Jawa dan Sumatra sekitar 200 SM. Kerajaan Taruma menguasai Jawa Barat sekitar tahun 400. Pada tahun 425 agama Buddha telah mencapai wilayah tersebut.


Pada masa Renaisans Eropa, Jawa dan Sumatra telah mempunyai warisan peradaban berusia ribuan tahun dan sepanjang dua kerajaan besar.

Dahlan Ranuwiharjo Meluruskan Sejarah HMI Sunday, Nov 4 2007 

Beberapa tokoh yang sempat mengenal Dahlan secara pribadi punya kenangan tersendiri terhadap sosok Dahlan. ”Mungkin baginya saya ini nomor dua,” ujar sang isteri, Ny A Dahlan Ranuwiharjo.

Kecintaan aktivis yang akrab disapa ‘Pak De’ Dahlan ini terhadap HMI memang tak bisa dipungkiri. ”Dahlan ialah seorang muslim nasionalis,” ungkap Roeslan Abdulgani. Pendapat senada juga dilontarkan Wakil Presiden Hamzah Haz. Dalam pandangannya Dahlan ialah tokoh yang penuh dengan dedikasi. ”Hingga di usia senja ia tetap bersemangat berbagi ilmu. Ia patut menjadi teladan,” ungkap Hamzah Haz ketika memberi sambutan dalam peluncuran dua buku karya Dahlan Ranuwiharjo di Jakarta.

Meski kini Dahlan telah tiada sejumlah sahabat memprakarsai terbitnya buku-buku karya terakhir Dahlan. Melalui buku ‘Bung Karno dan HMI Dalam Pergulatan Sejarah’ pembaca bisa mencermati pertanggungjawaban politik Dahlan ketika menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan dan Penasehat Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (DPP PB HMI).

Berbagai pemikiran Dahlam lainnya juga terungkap di buku ‘Revolusi, Anti-Imperialisme, dan Pancasila’. Kedua buku tersebut untuk kali pertamanya dicetak Februari 2002 oleh Institute for Transformations Studies (Intrans) Jakarta. ”Kami berharap lewat buku ini masyarakat tetap bisa mencermati ide dan pemikiran almarhum Dahlan semasa hidupnya,” ungkap Direktur Intrans, Harry Azhar Aziz.

Buku ‘Bung Karno dan HMI Dalam Pergulatan Sejarah’ sebenarnya merupakan pelurusan sejarah, khususnya mengenai HMI, versi Dahlan. Awal hingga akhir buku ini menceritakan tentang pembentukan HMI, masa-masa kritis — ketika PKI menuntut pembubaran HMI — dan sikap HMI setelah masa kritis tersebut berakhir. Maklum saja, Dahlan, menurut Roeslan Abdulgani, memang tokoh yang sangat berjasa dalam menghadapi upaya pemberangusan HMI yang kerap dilancarkan PKI sekitar 37 tahun lalu.

Jalan cerita tersusun rapih bak buku sejarah dengan bahasa yang cukup dapat dimengerti. Roeslan menyebut buku ini sebagai historiografi, karena penulisannya tidak sepenuhnya objektif dan memperlihatkan karakteristik serta impresi si penulis. Di bagian ”Gejolak Hati Nurani Saya”, Dahlan mengungkapkan pergelutan pemikirannya menghadapi kasus Utrecht.

Ia menjabarkan kekhawatirannya akan berulangnya kegagalannya ketika mempertahankan eksistensi GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia). Dahlan khawatir pola pikir HMI yang menganut ‘breed-front’ ala Zulkifli Lubis akan menghambat rencananya untuk meminta ‘back up’ dari Presiden Soekarno agar mengeluarkan pernyataan tidak akan membubarkan HMI.

Di samping itu, buku ini juga mencoba ‘meluruskan’ pandangan tentang berbagai hal yang dianggapnya penting. Pengertian ‘revolusi’ dan ‘revolusioner’ misalnya. Kedua kata tersebut dijabarkan secara rinci dan disertai contoh kasus yang relevan dengan kondisi tahun 1960-an. Buku ini ditutup dengan rentetan kisah tentang Penutupan Kongres CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) di mana Bung Karno mengeluarkan ‘statement’-nya tentang eksistensi HMI.

Sebenarnya, menurut editor Viva Yoga Mauladi, Dahlan dan dirinya berencana untuk meneruskan penulisan sisa topik yang tak kalah penting, yaitu tentang bagaimana sikap HMI selanjutnya. Namun, Dahlan dihadapkan pada kewajibannya untuk memimpin kepanitiaan perayaan 100 Tahun Bung Karno di saat kondisi fisiknya mulai menurun. Akhirnya melalui penelusuran panjang, teman-teman Dahlan bekerja secara kolektif merampungkan buku ini.

Buku setebal 157 halaman ini 100 halaman di antaranya memuat cerita-cerita Dahlan. Sedangkan sisanya diisi dengan sejumlah lampiran berbagai salinan dokumen penting tentang HMI dan kliping berita HMI, serta foto-foto kenangan Dahlan bersama kader HMI lainnya.

Semangat religius dan nasionalisme Dahlan juga tampak di bukulainnya. Dalam buku ‘Revolusi, Anti Imperialisme, dan Pancasila’ terungkap bagaimana seorang Dahlan menggunakan pemahamannya terhadap agama Islam sebagai pedoman dalam melihat persoalan ideologi, ekonomi, sosial, politik, maupun budaya. Di samping itu, Dahlan terlihat banyak menggunakan pemikiran-pemikiran Bung Karno sebagai referensinya, terutama ketika menyangkut pembahasan tentang nasionalisme. Dahlan banyak membahas kondisi Pancasila dari masa ke masa serta mengkaitkan pemikiran antara Islam dengan berbagai aspek bernegara.

Presiden Megawati Soekarnoputri sebagai putri mendiang Bung Karno dalam kata pengantarnya menyebut Dahlan sebagai seorang Islam yang nasionalis. ”Ia tahu benar posisinya bagi seorang Muslim yang mayoritas di dalam berbagi dengan saudara-saudaranya yang berlainan keyakinan dalam sebuah Indonesia Raya.”

(more…)

di Balik Pembakaran Buku-Buku Sejarah Sunday, Nov 4 2007 

eori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje jelas harus dihapus dari seluruh buku pelajaran anak-anak sekolah di negeri ini. Islam di Indonesia telah masuk di zaman Rasulullah SAW masih hidup, jadi bukan di abad ke-14, melainkan di abad ke-7. Masih teramat banyak lagi catatan sejarah yang harus diluruskan dan dipaparkan secara jujur. Antara lain:

Nanggroe Aceh Darussalam

Istilah gerakan separatis yang dialamatkan kepada warga Aceh yang ingin memisahkan diri dari NKRI jelas tidak tepat. Jauh sebelum NKRI lahir, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah menjadi satu negara berdaulat dan bahkan menjadi bahagian dari protektorat Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, menjadi bagian dari kekhalifahan Islam. NAD telah memiliki qanun-nya (Qanun Meukuta Alam) yang tertatat rapi dan sistematis berdasarkan Qur’an dan hadits disaat orangtua para perumus UUD 1945 belum lahir.

Kesediaan NAD untuk bergabung dengan NKRI lebih disebabkan ukhuwah Islamiyah dengan saudara-saudara seiman di Nusantara. Presiden Soekarno pun telah berjanji untuk memberi NAD keistimewaan berupa penerapan syariat Islam di wilayahnya. Namun sejarah mencacat bahwa Soekarno berkhianat dan bahkan merampok sumber daya alam Aceh untuk di bawa ke tanah Jawa. Perampokan ini terus berlanjut hingga puluhan tahun dan ini membuat rakyat NAD berpikir bahwa tidak ada manfaatnya bergabung dengan NKRI. Mereka ingat bahwa NAD memiliki masa kejayaan dan mereka ingin mengulang masa-masa itu.

Jadi NAD bukanlah gerakan separatis, melainkan menarik kembali kesediaannya karena pengkhianatan yang dilakukan pusat.

Perang Diponegoro

Perang besar terjadi tahun 1925-1930 antara rakyat Jawa Tengah pimpinan Pangeran Diponegoro melawan penjajah kafir Belanda. Dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa Pangeran Diponegoro mengangkat senjata karena marah tanah leluhurnya diserobot Belanda. Ini salah besar.

Sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara memaparkan bahwa iman Islam seorang Diponegoro-lah yang menyebabkan dia lebih suka keluar dari lingkungan keraton dan bergabung dengan rakyat memimpin perang melawan kafir Belanda. Salah satu pemicunya karena Belanda menerapkan pajak Blasting yang sangat menyengsarakan rakyat. Diponegoro yang melihat rakyatnya terus ditindas tidak tahan dan langsung memimpin peperangan melawan kafir belanda tersebut.

“Dalam patung dan lukisan, Pangeran Diponegoro diperlihatkan tengah menghunus keris dengan tangan kanan dan tangan kirinya memegang tali kekang kuda. Ini pun tidak benar. Diponegoro bukanlah menghunus keris, tetapi memegang kitab suci al-Qur’an untuk membakar semangat jihad rakyatnya, ” papar Mansyur Suryanegara lagi.

Setelah masuknya Islam dan posisi NAD dalam NKRI, maka hal lain yang juga perlu diluruskan adalah tentang Perang Diponegoro (1825-1830). Dalam buku-buku pelajaran sejarah disebutkan bahwa Pangeran Diponegoro murka kepada Belanda karena penjajah Belanda telah menyerobot tanah leluhurnya. Lagi-lagi ini tidak tepat. Pangeran Diponegoro rela keluar dari lingkungan istana, membaur ke tengah-tengah rakyatnya, dan membangkitkan perlawanan terhadap penjajah semata-mata karena keimanan seorang Diponegoro yang anti terhadap segala kezaliman.

Sejarah Riau II Diseminarkan Sunday, Nov 4 2007 

PEKANBARU (Riau Online): Buku Sejarah Riau II 1942–2002 yang telah selesai ditulis oleh tim akan segera diseminarkan.

PEKANBARU (Riau Online): Buku Sejarah Riau II 1942–2002 yang telah selesai ditulis oleh tim akan segera diseminarkan. Dengan tema tersusunnya sejarah Riau 1942–2002 untuk menjadi pedoman dasar demi mewujudkan masyarakat Riau yang bermarwah dan bermartabat.
Demikian hasil rapat tim penyusun dan panitia persiapan seminar yang di gelar di Aula Badan Kesejahteraan Sosial (BKS). Rapat tersebut di pimpin ketua kelompok pengarah Prof Drs Suwardi MS dengan di hari seluruh angota termasuk pengarah lainnya seperti H Himron Saheman.
Hasil pengumpulan bahan dan tulisan sudah dibahas dalam tim diskusi setiap minggunya mulai Februari – Agustus 2003. Tim telah berhasil membuat draf buku I (1942-1959) dan buku II 1959-2002. Mengingat draf tersebut mungkin saja ada kelemahan untuk itu penulis membawa ke seminar dimana penyampaian saran dan kritik untuk memberikan masukan.
Kemudian hasil pembahasan akan diadakan revisi penyempurnaan draf buku tersebut. Selanjutnya akan diterbitkan menjadi sebuah buku. Sebagaimana seminar sejarah Riau terdahulu yang dilaksanakan 20-25 Mei 1975 yang telah menghasilkan buku sejarah Riau yang diterbitkan tahun 1977.
Sedangkan tujuan dari seminar itu sendiri lanjut Suwardi, agar ditemukannya berbagai fakta sebagai informasi tentang pendapat materi buku. Baik kelebihan mapun kekurangan yang bisa bermanfaat dalam penerbitan. Terutama dalam penyempurnaan buku sebelum diterbitkan nantinya.
Diantara materi pokok yang nantinya akan dibahas antara lain, pertama sejarah perjuangan rakyat Riau 1942-1959 dalam berbagai aspek Kedua, sejarah perjuangan rakyat Riau 1959-2002 dalam berbagai aspek. Ketiga, peranan kebudayaan melayu dalam sejarah Riau, dan keempat, Peranan arsip Riau dalam penyempurnaan penulisan sejarah Riau.
Selain para pemakalah lokal seperti H Wan Ghalib, H Tenas Effendi, H Abbas Djamil dan para tokoh lainnya juga akan di tampilkan pemakalah luar Riau dalam hal ini Jakarta. Untuk pemakalah lokal jumlahnya sekitar 17 orang di luar tim penulis. Sedangkan pemakalah luar jumlahnya sebanyak 15 orang seperti Prof Dr Taufik Abdullah, Dr Anhar Gonggong, Dr Susanto Zuhdi, Dr Diem Majid dan lain sebagainya.
Sementara itu dalam yang akan dilaksanakan 15-18 Desember ini nantinya akan diikuti sekitar 300 orang peserta seluruhnya. Dengan Kinot Spiker adalah Gubri HM Rusli Zainal SE. Dengan tempat pelaksanaan rencananya dipusatkan di Hotel Mutiara Merdeka.
Kendati demikian bagi masyarakat umum yang ingin ikut serta dipersilahkan mendaftar secepatnya. Sebab pendaftaran sangat terbatas sekali mengingat tempat yang disediakan cukup sedikit. Pendaftaran dibuka setiap jam kerja di sekretariat Gedung Lembaga Adat.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.