Kalau anda pernah menjadi salah satu korban kejahatan atau ingin menghindari terjadinya kejahatan, artikel ini mungkin bisa berguna bagi anda…
Kejahatan sering terjadi bukan karena ada niat dari pelakunya tetapi karena adanya kesempatan, oleh karena itu waspadalah. Kalimat ini mungkin sudah sering anda dengar di salah satu televisi swasta, dan memang benar adanya. Dibulan puasa, kejahatan bukannya berkurang, tapi tetap ada, oleh karena itu kami menampilkan artikel ini yang kami kutip dari sebuah situs muslim. Semoga berguna bagi para pembaca…
Top Ten Kejahatan Yang Kerap Terjadi Di Kota Metropolitan Jakarta, berikut beberapa tips dalam menghadapinya:
Peringkat 10: Penipuan lewat Handphone.
Pernah menerima pesan seperti ini tidak: Selamat, anda telah memenangkan hadiah dari undian Satelindo yang diundi pada tanggal 11/2/2007, di depan notaris dan pejabat setempat, dalam rangka Ulang Tahun Satelindo ke 15. Untuk keterangan lebih lanjut, harap hubungi Pak Razik 0816 xxx xxx sekarang juga. Jika pernah itu artinya anda termasuk ke dalam mereka yang jadi sasaran untuk dijadikan korban penipuan lewat HP.
Bukan hanya provider Satelindo saja yang dijadikan kambing hitam oleh mrreka, tapi juga hampir semua provider yang beredar saat ini. Mulai dari telkomsel, IM3, Pro-XL, dll. Dan ternyata, bukan hanya provider saja yang dilibatkan dalam hal ini, tapi para penipu ini juga mengatas namakan acara-acara kuis di televisi, perayaan ulang tahun di berbagai supermarket besar, Dirgahayu Perusahaan Publik terkenal, dll. Semuanya dengan janji untuk memberikan hadiah menarik seperti mobil, motor, Umrah, Pergi Haji, Apartemen hingga Rumah di Perumahan terkenal.
Saya juga pernah menerima pesan serupa. Penasaran, segera saya hubungi nomor rujukan yang mereka berikan. Dan berhadapanlah saya dengan Bapak X dimaksud. Dengan diawali pemberian salam yang sangat santun, beliau lalu menanyakan nama dan nomor telepon kita dengan keterangan untuk mengecek saya memperoleh hadiah yang mana dari undian mereka. Kemudian dengan penuh keakraban beliau akan menanyakan agama yang kita anut.
Setelah mendengar bahwa saya beragama Islam dengan suara yang penuh nada gembira kembali si bapak ini akan mengucapkan salam dengan lebih lengkap lalu diikuti dengan pengakuan yang penuh keakraban bahwa si bapak X adalah seorang Muslim yang sudah beberapa menunaikan ibadah haji. Kali ini dia ubah suaranya penuh rasa haru bahwa dia tidak bisa melupakan daya magis dari pengalaman spiritual yang dia peroleh di Mekah sana. Barulah kemudian dia meyakinkan saya bahwa dia adalah seorang bapak yang punya dua orang anak dan ingin anaknya kelak menjadi muslim yang baik di kemudian hari. Lalu, akhirnya (alhamdulillah) dia masuk ke inti pembicaraan.
(terdengar suara membolak-balik kertas dan tombol keyboard yang ditekan-tekan) Oh, Ibu Ade, saya ucapkan selamat sekali lagi. Benar bu. Ibu telah memenangkan hadiah sebuah sepeda motor Yamaha terbaru seharga Rp 9.750.000 jika ibu melihatnya di dealer-dealer motor terdekat. Tapi dalam hal ini ibu sama sekali tidak usah mengeluarkan uang sebanyak itu, karena hadiah ini sudah menjadi milik ibu dalam rangka Dirgahayu Satelindo. Undian ini sudah dilaksanakan kemarin bu, itu sebabnya ibu dengar sendiri kan bahwa kantor kami sangat ramai dan sibuk hari ini.
Hadiah akan diantarkan langsung ke rumah ibu, berikut dengan STNK-nya. Jadi bisa langsung jreng bu di jalan. Ibu masih suka mengantar anak ibu sekolah atau belanja? Nah, insya Allah mulai minggu depan, ibu bisa melakukan semua kegiatan tersebut dengan sepeda motor tersebut. Tidak ada pungutan biaya apapun bu. Karena ini adalah komitment dari kamu untuk membahagiakan para pelanggan di hari ulang tahun kami.
Dan mulai bertaburanlah kalimat sumpah atas nama Allah dan sumpah bahwa sebagai seorang muslim dia masih punya rasa malu untuk membohongi sesama saudara muslim guna meyakinkan saya bahwa yang dia lakukan bukanlah penipuan (hal ini dia lakukan bisa jadi karena sebelumnya saya, dengan polosnya bertanya apakah ini sebuah penipuan seperti yang sering saya baca di surat kabar).
Barulah setelah itu saya tanyakan apa syaratnya untuk memperoleh hadiah tersebut. Dia katakan (sekali lagi dengan beraninya mengatas namakan sumpah demi Allah) bahwa tidak ada pungutan biaya apapun, hanya saja dia perlu memenuhi persyaratan administrasi, yaitu saya harus membeli kartu telepon Satelindo yang baru sebanyak 6 lembar, hapus penutup timahnya dan beritahukan padanya nomor kode rahasia yang tertera di kartu telepon itu. Jika itu sudah saya lakukan, dia akan segera mengirimkan motor tersebut ke rumah saya hari itu juga.
Ah. Saya memang senang mengorek keterangan ^_^. Lalu saya katakan padanya, bahwa saya tidak punya uang sebanyak itu (6 x Rp 109.000), dan mulailah terjadi perubahan suara pada bapak tersebut. Jika semula suaranya sangat santun kini mulai terdengar nada tidak sabar (mungkin dia kesal dengan suara saya yang terdengar begitu bodoh dan lugu).
Ibu pinjam saja ke tetangga ibu. Selama ini hubungan tetangga baik kan bu, bukankah berbuat baik pada tetangga itu termasuk sebagian dari iman? Jika kita baik pada mereka tentu mereka juga baik pada kita. Pinjam saja pada mereka bu.
Tapi saya belum lapor pada suami saya.
Ah, suami ibu pasti senang, lebih baik tidak usah lapor dahulu, biar jadi surprise saja buat suami ibu. Dia akan bahagia begitu pulang ada sebuah motor baru di depan pintu jadi dia tidak akan marah dengan pinjaman beberapa ribu di tetangga ibu. Pinjaman beberapa ratus ribu itu tidak sebanding dengan motor seharga 9 jutaan lebih itu bu. Kemudian beberapa ajaran dan bujukan lain terus mengalir hingga akhirnya barulah saya mengaku bahwa saya tidak sebodoh yang dia kira. Saya berbalik mengejarnya dengan pertanyaan seputar sumpah atas nama Allah yang akan membawa kemalangan dan pertanggung-jawaban yang maha berat baginya. Kemudian dengan tegas saya tanyakan identitas bapak tersebut dan suara yang semula sabar, santun dan kebapakan itu berubah menjadi judes, ketus dan sangat tidak ramah.
Ya sudah kalau ibu memang tidak mau menerima rezeki. Bodoh!! Telepon ditutupnya. Selesai. Saya telepon balik lagi dan kembali menasehati dia agar menghentikan usahanya menipu orang banyak. Dia langsung menutup telepon. Dan setelah itu beberapa kali saya telepon balik lagi ke nomor itu, dia tidak pernah ada lagi di tempat. Sekarang, nomor telepon itu bahkan tidak pernah lagi diangkat. Entah kemana raibnya. Alhamdulillah. Semoga Allah sudah memberi orang-orang tersebut hidayah untuk bertobat. Aamiin.